Selasa, 23 Juli 2013
Kebaktian Pagi HKBP Bandung Reformanda
St Mervin Hutabarat, Pdt Saut Sirait, St SPH Marbun, Natal br Pangaribuan terlibat dalam Kebaktian Pagi di Jalan Sumedang No 2 Bandung
Pembahasan firman Tuhan dengan saling membagi pengalaman iman diantara peserta.
Ir Heppy Sirait, ketua pembangunan dan beberapa jemaat ikut menghadiri kebaktian pagi yang diadakan pertama kali di Jalan Sumedang No 2 Bandung.
Keluarga R Pinayungan br Hutapea, St TP Sirait, Pdt Saut Sirait
Gambar yang menunjukkan salah satu kegiatan pelayanan HKBP Bandung Reformanda yaitu Kebaktian Pagi yang untuk pertama kali dilaksanakan, Sabtu 20 Februari 2010, di tanah / bangunan yang telah dibeli oleh jemaat HKBP Bandung Reformanda. Haleluya.
Kamis, 18 Juli 2013
“Kasih Allah”
1 Yohanes 4 : 9 : “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di
tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke
dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya”
|
1 Petrus 1 : 18-21
|
|
Jesaya 30 : 18-24
|
Kasih adalah salah
satu sifat dari Allah. Kasih menjadi dasar dan yang membentuk hubungan Allah
dan manusia. Berbagai perbuatan Allah bagi manusia adalah sebagai tindakan
kasih. Dalam ayat ini Yohanes menunjuk kepada puncak pernyataan dan wujud kasih
Allah kepada manusia yaitu diutusnya Yesus AnakNya yang tunggal ke dunia.
Ayat
ini menegaskan bahwa kedatangan Yesus ke dunia adalah bukti dari kasih Allah.
Yesus datang ke dunia untuk menggantikan manusia menjalani hukuman atas dosa.
Kematian-Nya memberi hidup kepada manusia yang percaya pada-Nya, dan ini bukan
karena manusia mengasihi Allah. Kita tidak dapat memahami kasih Allah jika
tidak mengerti atau mengabaikan peristiwa kematian Yesus di kayu salib.
Penjelasan tentang kasih Allah di luar salib Kristus adalah penjelasan kasih
yang tidak sempurna.
Hidup
dalam kasih merupakan bukti hidup bersama Allah. Sebab itu kini kita yang telah
menerima kasih Allah harus meresponsnya atau menyambutnya dan mewujudkan kasih
itu di dalam kehidupan pribadi kita. Jika tidak, maka tidak ada bukti bahwa
kita telah mengalami kasih Allah dan juga tidak ada bukti bahwa kita sedang
berelasi atau berhubungan dengan Allah. Sekali lagi kita diingatkan bahwa hubungan kita dengan
Allah dan sesama harus didasari atas kasih Allah tersebut.
Kita,
manusia sebagai ciptaan Allah memiliki kemampuan untuk mengasihi. Tetapi kasih
yang kita miliki dan wujudkan akan sempurna jika kasih itu menunjuk atau
didasari pada salib Kristus. Kasih Kristus adalah penuh pengorbanan, demi
keselamatan manusia dari kematian Dia rela mati disalib. Inilah kasih yang
harus menjadi dasar perilaku hidup kita dan juga dasar dari pelayanan kita
kepada Allah. Marilah kita renungkan: “Kasih
adalah kesediaan untuk berkorban, maukah kita berkorban demi memenangkan jiwa-jiwa?”
Amin. (HDISipahutar)
Mari kita berdoa:
Bapa yang baik kami
bersyukur Kau memberikan AnakMu untuk keselamatanku sebagai bukti kasihMu atas
diriku. Bukalah mata hatiku untuk mengerti dan menerima kasihMu. Ajarlah kami
juga untuk menerapkan kasihMu dalam kehidupan pribadi kami. Amin.
Rabu, 17 Juli 2013
CIRI HIDUP ORANG KRISTEN
Efesus 4:32 : “Tetapi
hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling
mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu”
|
2 Timotius 2 : 23-26
|
|
Yosua 2 : 8-14
|
Apabila
kita mengunjungi mal atau pusat belanja, maka kita akan menjumpai gaya
atau penampilan khas anak-anak remaja. Berbagai atribut yang dipakai seperti
baju, pernak-pernik sampai tingkah lakunya merupakan ciri khas anak jaman
sekarang atau dikenal dengan istilah “anak gaul”. Atribut yang mengikuti “tren”
yang mereka pakai dapat disimpulkan merupakan cara mereka “menyatakan”
identitas mereka dengan harapan orang memahami siap dirinya. Dalam nats kita,
Paulus mengajak jemaat Efesus untuk berani tampil beda dalam kehidupannya.
Tujuannya agar mereka berbeda dengan orang yang di luar Kristus. Penekanan
Paulus terutama pada (1) moralitas bagi kehidupan orang Kristen diantaranya,
tidak berdusta, tidak emosional, mampu mengendalikan diri dalam keadaan marah,
menjaga tutur kata sehingga tidak berkata kotor. (2) pola kasih Kristus yang
rela berkorban demi umat-Nya, Ia rela mempersembahkan diri-Nya sebagai korban
persembahan yang harum bagi Allah. Paulus ingin agar jemaat Efesus mempraktekkan
pola kasih Kristus dalam kehidupannya, bukan saja sebagai keharusan tetapi juga
sebagai tanda atau ciri khas dalam kehidupan orang Kristen.
Zaman sekarang sulit menemukan orang Kristen yang menerapkan pola kehidupan
dengan prinsip mengasihi dan mengampuni seperti anjuran Paulus. Akan tetapi
jangan diartikan kesulitan itu sama dengan tidak mungkin. Yesus telah
mencontohkan hal tersebut, dan Ia mampu. Karena Kristus telah melakukannya
untuk kita, maka hal-hal yang tidak mungkin bagi kebanyakan orang menjadi
mungkin bagi kita karena Kristus menolong kita. Maukah kita mendasarkan hidup
kita pada semangat untuk saling mengasihi dan saling mengampuni, sehingga ciri
khas kita sebagai orang Kristen nyata dalam dunia ini? Amin. (HDISipahutar)
Mari kita berdoa: Terimakasih
Bapa yang baik atas ayat yang boleh kami baca hari ini. Kami diingatkan untuk
mencontoh AnakMu Kristus agar kami saling mengasihi dan mengampuni. Karenanya
ya Bapa berikan kami kekuatan agar kami mampu melakukannya. Amin.
Jumat, 12 Juli 2013
“MARI BERSAKSI” (Mazmur 9 : 2)
“Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatanMu yang ajaib”
|
Kolose 3 : 1-4
|
|
Mazmur 118 : 5-9
|
Kitab Mazmur adalah kitab
yang berbentuk puisi dan nyanyian. Secara umum berisi ungkapan hati sang pemazmur kepada TUHAN. Ungkapan
hati ini dapat berupa pujian, rasa takut, rasa aman, ucapan syukur ,doa,
permohonan dan lain-lain.
Ayat yang kita baca merupakan bagian awal
dari pasal 9, tentang ungkapan rasa syukur pemazmur (dalam hal ini Raja Daud)
karena pemeliharaan TUHAN atas dirinya. Dia mengatakan :” Aku bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati ...”. Pengertian
bersyukur, berhubungan dengan rasa terimakasih dan pujian. Itu artinya
didalamnya ada penyembahan dan ada kerendahati hati. Karena ungkapan syukur
mengandung pujian dan penyembahan maka ungkapan syukur hanya pantas diberikan
pada TUHAN. Dari ayat ini kita belajar bahwa sepantasnyalah kita bersyukur pada
TUHAN atas apa yang sudah Ia berikan pada kita. Marilah kita pikirkan apa saja
yang sudah TUHAN berikan / lakukan pada kita. Dan tanyakan siapakah kita
sehingga kita dipelihara oleh TUHAN? Karenanya patulah kita meniru Raja Daud
mengucapkan syukur, karena kita boleh hidup, selamat bukan karena kekuatan
kita, melainkan karena kemurahan dan anugerah dari TUHAN semata (sola gratia).
Selanjutnya Daud berkata: “....aku mau menceritakan segala perbuatanMu
yang ajaib”. Inilah yang kita lakukan yaitu bersaksi atau menceritakan
segala hal yang dilakukan TUHAN pada kita. Ceritakanlah atau saksikanlah pada
teman atau sekeliling kita tentang TUHAN, tentang perbuatanNya yang ajaib,
anugerahNya, kebaikanNya, kemurahanNya. Seperti Raja Daud, kitapun jangan malu
untuk bersaksi atau menceritakannya karena itu juga merupakan cara kita untuk
mengungkapkan rasa syukur kita padaNya. Amin. (HDISipahutar)
Mari kita berdoa: Aku bersyukur padaMu ya Tuhan atas ayat yang boleh kubaca hari ini, aku
disadarkan untuk bersaksi kepada teman-temanku, menceritakan segala perbuatanMu
yang ajaib yang kualami selama ini. Karenanya tolonglah aku untuk dapat melakukannya
sebagai rasa syukurku kepadaMu, ya TUHAN. Amin.
Rabu, 10 Juli 2013
“MARI BERTOBAT” (Yoel 2 : 13a)
Yoel 2 : 13a : “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu!”
|
Yohanes 10 : 22-29
|
|
Zefanya 2 : 1-3
|
Ayat
ini merupakan bagian dari perikop yang berjudul ‘seruan untuk bertobat’. Seruan
bertobat ini datang dari TUHAN sendiri (baca Yoel 2:12). Dari ayat itu pula tertulis bahwa pertobatan itu
harus dilakukan sekarang juga artinya tidak menunggu waktu yang baik atau kalau
sudah siap, tetapi sekali lagi waktunya adalah sekarang.
Perkataan
“koyakkanlah hatimu” terungkap suatu pengertian
bahwa pertobatan yang diminta TUHAN adalah pertobatan yang bersifat imani
(rohani) bukan pertobatan yang bersifat luar (kosmetik/jasmani) seperti
tertulis “…dan jangan pakaianmu,..”.
Dari
ayat di atas maka pertobatan diartikan sebagai kesadaran (menyesali) akan dosa (pelanggaran
pada perintah / hukum Allah) yang telah dilakukan dan setelah itu berbalik
kepada TUHAN meninggalkan atau tidak melakukan dosa lagi. Jadi bukan sekadar
sadar dan menyatakan penyesalan atas dosa yang telah dilakukan saja tetapi
secara sadar dan tegas meninggalkan dosa itu dan berbalik / kembali kepada TUHAN
Allah.
Pengertian
lain adalah bila kita sadar telah melakukan dosa maka kita bukan lari dari
TUHAN melainkan harus datang kepada TUHAN sehingga tidak mati karena dosa
tetapi justru beroleh hidup karena penghapusan dosa oleh TUHAN.
Bila kita cermati isi dari Yoh 3:16 terungkap disana cara TUHAN menyelamatkan
manusia dari dosa yaitu dengan percaya pada Yesus Kristus.
Karena
itu ambillah keputusan saat ini juga untuk mengkoyakkan hati kita tanda
penyesalan secara iman akan dosa-dosa kita dan berbalik kepada TUHAN, datang
kepadaNya menerima uluran tanganNya sehingga kita akan terhindar dari maut
karena dosa tidak lagi menguasai hidup kita. Amin.
Mari kita berdoa: Terimakasih
Tuhan aku boleh disadarkan tentang
bagaimana aku harus bertobat. Karenanya
ya Tuhan beri aku kekuatan untuk meninggalkan dosa-dosa yang telah kulakukan
dan berbalik datang kepadaMu. Amin.
(HDISipahutar)
“KASIHILAH SESAMAMU” (Yakobus 3 : 16)
Yakobus 3 : 16 : “Sebab dimana ada iri hati dan mementingkan
diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”
|
Yakobus 4 : 1-10
|
|
Keluaran 21 : 1-11
|
Semenjak
manusia pertama (Adam dan Hawa) jatuh dalam dosa maka hidup manusia tidak luput
dari pengaruh dosa. Pengaruh dosa dalam diri manusia itu antara lain timbul
sifat iri hati dan mementingkan diri sendiri. Iri hati dan mementingkan diri
sendiri bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu
manusia, dan dari setan-setan (baca Yak. 3:15).
Sifat
iri hati membuat hati manusia tidak senang / tenang bila melihat orang lain
lebih baik atau lebih berhasil dibandingkan dengan dirinya karenanya dapat
menimbulkan kebencian pada sesama, dendam (pikiran jahat) dalam hatinya bahkan
timbul keinginan untuk mencelakai sesamanya.
Sifat
mementingkan diri sendiri membuat lebih memikirkan kebutuhannya sendiri tidak
peduli pada kepentingan orang lain karenanya sifat ini akan cenderung
menghantarkan manusia untuk tidak taat kepada kebenaran, membuat manusia taat
pada kelaliman.
Dari
tanda atau ciri-ciri kedua sifat ini maka orang yang memiliki sifat-sifat demikian
dapat membuat dirinya tidak sejahtera juga cenderung membuat orang lain susah, dalam
hatinya timbul niat untuk berbuat jahat, misalnya mencelakai bahkah membunuh
sesamanya.
Jelas
sifat ini sangat bertentangan dengan hukum terutama seperti yang dikatakan
Yesus Kristus: ‘Kasihilah sesamamu
manusia seperti dirimu sendiri’ (Mat 22:39), bukan membenci sesama apalagi
mencelakainya (bandingkan dengan hukum ke enam: ‘jangan membunuh’).
Marilah
kita menghindarkan sifat iri hati dan mementingkan diri sendiri tetapi
menerapkan hidup yang mengasihi kepada Tuhan Allah dan sesama manusia sehingga
kita terhindar dari kebencian, pikiran jahat yang dapat menimbulkan kekacauan
dan perbuatan jahat. Amin.
Mari kita berdoa: Aku
bersyukur padaMu ya Tuhan atas ayat yang boleh kubaca hari ini, aku disadarkan
untuk mengasihi sesamaku. Tolonglah aku untuk dapat mengasihi sesamaku sehingga
dalam hatiku tidak ada kebencian dan pikiran jahat. Amin (HDISipahutar)
Selasa, 09 Juli 2013
Persembahkanlah yang terbaik bagi TUHAN (Markus 12:41-44)
Nats yang menceritakan tentang seorang
perempuan janda miskin dengan 2 peser persembahannya mengajarkan tentang iman,
motivasi, sikap dan prioritas hidup. Dari sekian banyak orang kaya yang
memberikan persembahan mereka di Bait Suci, Yesus mengatakan bahwa persembahan
janda miskin yang hanya 2 peser itulah yang terbanyak. Ini menunjukkan bahwa
Yesus mempunyai ukuran yang berbeda dengan ukuran manusia dalam menilai
suatu persembahan.
Mengapa Tuhan Yesus berkata, "sesungguhnya
janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan
uang ke dalam peti persembahan." Tuhan Yesus hendak mengajar para
murid-Nya bahwa nilai persembahan tidak ditentukan oleh jumlahnya. Ketika
banyak orang memberi dalam jumlah banyak, Tuhan Yesus tidak memberi komentar
apa-apa, tetapi ketika seorang janda memberi dua peser, yaitu satu duit
("peser" adalah mata uang terkecil pada saat itu, sedangkan
"duit" adalah mata uang Romawi), Tuhan Yesus langsung memuji janda
itu dan mengatakan bahwa janda itu memberi lebih besar daripada yang lain.
Mengapa demikian? Pertama,
persembahannya menunjukkan ketulusan hati sang janda dalam mengasihi Tuhan,
sehingga ia memberikan semua miliknya. Kedua,
persembahannya itu menunjukkan bahwa janda ini mengutamakan Tuhan sehingga ia
memberikan yang terbaik, yaitu seluruh nafkahnya.
Melalui nats ini juga
bisa kita peroleh tentang ukuran suatu persembahan yaitu: Persembahan kita diukur oleh motivasi dari si-pemberi. Seberapa
besarpun persembahan kita namun jika diiringi dengan sungut-sungut dan motivasi
yang tidak benar, maka di hadapan Tuhan adalah sama dengan tidak memberi,
bahkan lebih baik tidak memberi sama sekali. Persembahan kita
haruslah dimotivasi oleh karena kasih kita kepada Tuhan.
Persembahan kita diukur bukan dari jumlahnya namun dari porsinya. Allah
tidak meminta jumlah persembahan yang sama dari tiap umatNya. Kepada siapa
banyak diberi, maka daripadanya akan lebih banyak dituntut. Orang kaya dalam
nats ini memberikan jumlah yang banyak, tapi mereka memberi dari kelebihan
mereka; janda miskin memberikan sedikit, hanya 2 peser, namun dia memberi dari
kekurangannya karena hanya itulah yang dimiliki. Memberi dari kelebihan adalah
hal biasa, memberi dari kekurangan baru luar biasa karena itu memerlukan
iman yang kuat.
Memberi persembahan adalah hal yang baik,
karena itu dimintakan oleh firman Tuhan, namun janganlah kita menganggap diri
lebih terhormat / lebih rohani dari orang lain karena merasa telah memberi
persembahan dalam jumlah yang besar. Sikap hati yang benar lebih penting
daripada besarnya persembahan yang diberikan. Sikap hati yang benar akan menuntun
kita untuk memberi yang terbaik kepada Tuhan. Merupakan sikap yang salah bila
kita memberi persembahan dengan motivasi agar Tuhan membalas dengan memberi
berkat secara berkelimpahan. Tanggalkanlah motivasi semacam itu
Perempuan janda miskin dalam nats ini
telah memberi teladan kepada kita dalam hal memberi persembahan kepada Tuhan. Kita
dapat memahami hakekat dari memberi persembahan. Apa yang kita percayai akan
mempengaruhi apa yang kita lakukan, dan cara kita bertindak akan dipengaruhi
oleh apa yang kita imani. Bila kita ingin mengikuti teladan janda ini, kita
harus menumbuhkan kerinduan untuk memberi yang terbaik bagi Tuhan. Kita harus
memberi dengan sukacita dan dengan hati yang rela untuk memberi. Kita hanya
bisa memberi dengan sukacita bila kita menyadari bahwa Tuhan sudah memberkati
hidup kita lebih dahulu, khususnya dengan memberikan hidup yang kekal.
Sermon Parhalado HKBP Ressort Bandung Tengah
Selasa, 22 Maret 2011
st hdi
sipahutar
Langganan:
Postingan (Atom)



