Tampilkan postingan dengan label Kasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasih. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juli 2013

“Kasih Allah”



1 Yohanes 4 : 9 : “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya
 
1 Petrus 1 : 18-21
Jesaya 30 : 18-24
Kasih adalah salah satu sifat dari Allah. Kasih menjadi dasar dan yang membentuk hubungan Allah dan manusia. Berbagai perbuatan Allah bagi manusia adalah sebagai tindakan kasih. Dalam ayat ini Yohanes menunjuk kepada puncak pernyataan dan wujud kasih Allah kepada manusia yaitu diutusnya Yesus AnakNya yang tunggal ke dunia.
Ayat ini menegaskan bahwa kedatangan Yesus ke dunia adalah bukti dari kasih Allah. Yesus datang ke dunia untuk menggantikan manusia menjalani hukuman atas dosa. Kematian-Nya memberi hidup kepada manusia yang percaya pada-Nya, dan ini bukan karena manusia mengasihi Allah. Kita tidak dapat memahami kasih Allah jika tidak mengerti atau mengabaikan peristiwa kematian Yesus di kayu salib. Penjelasan tentang kasih Allah di luar salib Kristus adalah penjelasan kasih yang tidak sempurna.
Hidup dalam kasih merupakan bukti hidup bersama Allah. Sebab itu kini kita yang telah menerima kasih Allah harus meresponsnya atau menyambutnya dan mewujudkan kasih itu di dalam kehidupan pribadi kita. Jika tidak, maka tidak ada bukti bahwa kita telah mengalami kasih Allah dan juga tidak ada bukti bahwa kita sedang berelasi atau berhubungan dengan Allah. Sekali lagi  kita diingatkan bahwa hubungan kita dengan Allah dan sesama harus didasari atas kasih Allah tersebut.
Kita, manusia sebagai ciptaan Allah memiliki kemampuan untuk mengasihi. Tetapi kasih yang kita miliki dan wujudkan akan sempurna jika kasih itu menunjuk atau didasari pada salib Kristus. Kasih Kristus adalah penuh pengorbanan, demi keselamatan manusia dari kematian Dia rela mati disalib. Inilah kasih yang harus menjadi dasar perilaku hidup kita dan juga dasar dari pelayanan kita kepada Allah. Marilah kita renungkan: “Kasih adalah kesediaan untuk berkorban, maukah kita berkorban demi memenangkan jiwa-jiwa?” Amin. (HDISipahutar)

Mari kita berdoa:
Bapa yang baik kami bersyukur Kau memberikan AnakMu untuk keselamatanku sebagai bukti kasihMu atas diriku. Bukalah mata hatiku untuk mengerti dan menerima kasihMu. Ajarlah kami juga untuk menerapkan kasihMu dalam kehidupan pribadi kami. Amin.

Rabu, 10 Juli 2013

“KASIHILAH SESAMAMU” (Yakobus 3 : 16)



Yakobus 3 : 16 : Sebab dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

Yakobus 4 : 1-10
Keluaran 21 : 1-11

            Semenjak manusia pertama (Adam dan Hawa) jatuh dalam dosa maka hidup manusia tidak luput dari pengaruh dosa. Pengaruh dosa dalam diri manusia itu antara lain timbul sifat iri hati dan mementingkan diri sendiri. Iri hati dan mementingkan diri sendiri bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dan dari setan-setan (baca Yak. 3:15).
            Sifat iri hati membuat hati manusia tidak senang / tenang bila melihat orang lain lebih baik atau lebih berhasil dibandingkan dengan dirinya karenanya dapat menimbulkan kebencian pada sesama, dendam (pikiran jahat) dalam hatinya bahkan timbul keinginan untuk mencelakai sesamanya.
            Sifat mementingkan diri sendiri membuat lebih memikirkan kebutuhannya sendiri tidak peduli pada kepentingan orang lain karenanya sifat ini akan cenderung menghantarkan manusia untuk tidak taat kepada kebenaran, membuat manusia taat pada kelaliman.
            Dari tanda atau ciri-ciri kedua sifat ini maka orang yang memiliki sifat-sifat demikian dapat membuat dirinya tidak sejahtera juga cenderung membuat orang lain susah, dalam hatinya timbul niat untuk berbuat jahat, misalnya mencelakai bahkah membunuh sesamanya.
            Jelas sifat ini sangat bertentangan dengan hukum terutama seperti yang dikatakan Yesus Kristus: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’ (Mat 22:39), bukan membenci sesama apalagi mencelakainya (bandingkan dengan hukum ke enam: ‘jangan membunuh’).
            Marilah kita menghindarkan sifat iri hati dan mementingkan diri sendiri tetapi menerapkan hidup yang mengasihi kepada Tuhan Allah dan sesama manusia sehingga kita terhindar dari kebencian, pikiran jahat yang dapat menimbulkan kekacauan dan perbuatan jahat. Amin.

Mari kita berdoa: Aku bersyukur padaMu ya Tuhan atas ayat yang boleh kubaca hari ini, aku disadarkan untuk mengasihi sesamaku. Tolonglah aku untuk dapat mengasihi sesamaku sehingga dalam hatiku tidak ada kebencian dan pikiran jahat. Amin (HDISipahutar)