Senin, 08 Juli 2013

Doa Bapa Kami



Doa atau berdoa adalah cara kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan, dalam berdoa kita juga mempercayakan seluruh pergumulan hidup kita kepada Tuhan. Karena itu doa harus dilandasi dengan penyerahan diri kepada Tuhan, dan keyakinan bahwa Tuhan mengetahui apa yang terbaik buat kita. Selain itu doa juga harus diiringi dengan upaya. Doa juga merupakan bagian utama pemberian syukur yang Allah tuntut dari kita (Maz 50:14-15). Dan Allah hendak melimpahkan rahmatNya serta Roh Kudus hanya kepada mereka yang dengan berkeluh kesah dan dengan tiada henti-hentinya memohon rahmat serta Roh itu dariNya dan mengucap syukur atasnya (Mat 7:7). Inilah alasan mengapa doa perlu bagi orang Kristen.
Doa yang berkenan di hadapan Allah dan yang dikabulkanNya mengandung beberapa hal antara lain: Dalam menaikkan doa, kita dengan segenap hati berseru hanya kepada Allah yang Esa dan sejati(Yoh 4:24), yang telah menyatakan diriNya kepada kita dalam FirmanNya (Mat 4:10b), untuk memohon kepadaNya segala sesuatu yang sesuai dengan perintah-Nya (1 Yoh 5:14).
Kita harus insaf benar akan kekurangan dan kesengsaraan kita (Maz 40:17), supaya kita merendahkan diri di hadapan kemuliaanNya (Maz 2:11).
Kita hendaknya mempunyai dasar yang kuat (Yak 1:6), yaitu bahwa Dia pasti sudi mengabulkan doa kita, walau kita tidak layak, hanya karena Tuhan Yesus Kristus (Yoh 14:13), sesuai dengan janjiNya dalam FirmanNya (Mat 7:8).
Dalam doa, kita memohon segala kebutuhan rohani dan jasmani (Mat 6:33), dan ini disimpulkan Tuhan Yesus Kristus dalam doa yang diajarkanNya sendiri kepada murid-muridNya (saat ini juga kepada kita).
Doa yang diajarkan oleh Yesus Kristus kepada murid-muridnya ini dikenal dengan sebutan: “DOA BAPA KAMI”
Doa Bapa Kami dalam bahasa Yunani disebut ”he kuriaku proseukhe”. Dalam bahasa Latin disebut dengan “Oratio Dominica”. Dalam bahasa Inggris, disebut dengan sebutan “The Pater Hemon”, “Our Father” atau “Pater Noster”.
Doa Bapa Kami juga dikenal sebagai doa umat percaya (Kristen). Kita dapat menjumpai Doa Bapa Kami dari 2 versi, yaitu dari versi Injil Matius (Mat. 6:9-13), dan versi dari Injil Lukas (Luk. 11:2-4). Kitab Injil Markus dan Injil Yohanes tidak mencatat Doa Bapa Kami. Latar belakang munculnya Doa Bapa Kami merupakan bagian dari percakapan para murid yang mohon kepada Tuhan Yesus tentang bagaimana mereka harus berdoa (Lukas 11:1). Beberapa kalangan orang Kristen, mengartikan Doa Bapa Kami sebagai suatu pedoman tentang bagaimana mereka harus berdoa. Tetapi ada pula yang mengartikanDoa Bapa Kami sebagai suatu perintah dari Tuhan Yesus agar mereka memakai Doa Bapa Kami secara berulang-ulang sebagai doa rutin. Kesaksian Injil sebenarnya tidak pernah menyebutkan bahwa Tuhan Yesus dan para murid menaikkan Doa Bapa Kami sebagai doa-doa rutin atau doa-doa harian mereka.
Berikut kita bisa melihat 2 versi perihal Doa Bapa Kami menurut Injil Matius dan Injil Lukas, yaitu:
Matius 6:9-13 :
Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)
Dalam bahasa batak:
Ale Amanami na di banua ginjang
Sai pinarbadia ma goarMu, Sai ro ma harajaonMu,
Sai saut ma lomo ni rohaM di banua tonga on songon na di banua ginjang.
Lehon ma tu hami sadari on hangoluan siapari.
Sesa ma dosanami songon panesanami di dosa ni dongan na mardosa tu hami.
Unang hami togihon tu pangunjunan. Palua ma hami sian pangago.
Ai Ho do nampuna harajaon dohot hagogoon ro di hasangapon saleleng ni lelengna. Amen.
Lukas 11:2-4 :
Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."
Perbedaan Doa Bapa Kami menurut Matius dan Lukas adalah:
1. Dalam Injil Lukas, sebutan Allah sebagai Bapa tanpa tambahan kata ganti ”kami”.
2. Setelah kalimat ”datanglah KerajaanMu”, dalam Injil Lukas tidak melanjutkan dengan kalimat ”jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga”.
3. Setelah kalimat ”janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” dalam Injil Lukas tidak terdapat kalimat ”tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat”.
4. Kalimat doksologi, yi. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin , tidak terdapat dalam Injil Lukas.
Doksologi berasal dari bahasa Yunani doxa - "pujian" dan logos - "firman" atau "berbicara". Doksologi adalah sebuah himne pendek yang digunakan pada kebaktian, seringkali dinyanyikan pada akhir kebaktian. Tradisi menyanyikan himne pendek ini serupa dengan apa yang dilakukan di sinagoga Yahudi dalam mengakhiri suatu ibadah atau doa. Ungkapan doksologi dalam kitab Matius merupakan tambahan dari jemaat untuk kebutuhan liturgis ibadah jemaat.
Doa Bapa Kami yang digunakan dalam kebaktian / ibadah adalah menurut apa yang tertulis dalam Matius 9 : 9-13.
Batang tubuh Doa Bapa Kami dapat dibagi dalam beberapa bagian sebagai berikut:
1. Alamat doa (kata pendahuluan)
o        Bapa kami yang di sorga
2. Seruan dan doa untuk kemuliaan Allah
o        Dikuduskanlah nama-Mu,
o        datanglah Kerajaan-Mu,
o        jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga
3. Doa permohonan untuk keperluan manusia baik jasmani maupun rohani.
o        Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,
o        dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
o        dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
o        tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat
4. Doksologi / pengucapan syukur (doa penutup)
o        Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin

Melihat dari isi dan batang tubuh “Doa Bapa Kami” ada beberapa pertanyaan yang bisa timbul :
1.       Mengapa kita boleh menyebut Allah dengan sebutan ‘Bapa’? (baca: Roma 8: 15,16)
2.       Bagaimana nama Allah dikuduskan? (baca: Mzm 96: 1-9; Mzm 103: 1-2; Mzm 115: 1-3)
3.       Apakah dalam doa ini kita berusaha supaya Allah memberikan kepada kita apa saja yang kita inginkan? (baca: Yoh 14:14; Luk 22: 42)
4.       Apa yang diajarkan kepada kita dengan ‘pada hari ini’ dan ‘yang secukupnya’? (baca Mat 6: 8; 25-34)
5.       Siapakah yang boleh meminta kepada Allah Bapa supaya dosa-dosanya diampuni? Apakah dosa kita akan diampuni karena perbuatan kita dengan mengampuni dosa orang lain? (baca: Ef 1: 5-8; Mat 6: 15; Ef 2:8-10)
6.       Apakah hubungan pengampunan yang kita terima dengan pengampunan yang kita berikan? (baca: Mat 18: 23-35)
7.       Apa arti ‘janganlah membawa kami ke dalam pencobaan’? (baca: Yak 1: 2-4; 12-15; 1 Kor 10-13)
8.       Apa arti kata Amin?(baca: Neh 8: 7)

(St HDI Sipahutar, HKBP Bandung Reformanda)

Parhahamaranggion



Ev : Markus 3 : 31 – 35                                                                              Ep : Matius 25  : 40 – 46
Topik : “Parhahamaranggion ala ni pangoloion tu Tuhan Jesus
Setelah Yesus dibaptis dan mengalami pencobaan di gurun, Yesus memulai pekerjaanNya sesuai dengan misiNya sebagai seorang Juruselamat, antata lain mengajar di rumah ibadat di Kapernaum dan kota-kota lain, menyembuhkan orang sakit, berbicara tentang ajaran keagamaan, menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Apa yang dilakukan Yesus menarik perhatian banyak orang sehingga banyak orang yang mengikutiNya. Dia bekerja dalam kuasa besar, Dia melakukan berbagai tanda dan pekerjaan yang sungguh mengagumkan. Disamping orang banyak yang mendengar ajarannya dan melihat apa yang dilakukanNya terdapat juga disana para ahli Taurat, Orang Farisi dan orang-orang dari pemerintahan saat itu.
Orang Farisi dan ahli taurat tidak senang melihat ketenaran Yesus Kristus, mereka mencari cara untuk menyalahkan Yesus dan bahkan bersekongkol untuk membunuh Dia (Markus 3:6). Pada Markus 3:22 dikatakan, mereka memfitnah Yesus sebagai orang yang kerasukan Beelzebul. Dengan fitnahan ini diharapkan ajaran Yesus akan ditolak orang banyak namun cara itu tidak berhasil, semakin banyak orang yang ingin mendengarkan ajaranNya dan merasakan mujizat yang dilakukan Kristus.
Berbeda dengan Maria ibu Kristus serta keluargaNya, mendengar bahwa para Farisi dan ahli taurat menentang ajaran Yesus, mereka menjadi gelisah dan ingin mengambil Dia karena kata mereka Ia tidak waras lagi (Mark 3:21). Merekapun mendatangi rumah tempat dimana Yesus melakukan pengajaran namun mereka berdiri diluar karena tidak dapat masuk. Mereka menyampaikan pesan kepada Yesus melalui orang lain. Sifat ke-ibuan dari Maria ibu Yesus dan rasa persaudaraan dari keluargaNya mendorong mereka untuk melindungi Yesus dengan mengajaknya pulang agar Dia selamat dari kemarahan orang-orang yang membenci Yesus. Tetapi Yesus menjawab dengan mengatakan:“Siapa ibuKu dan siapa saudara-saudaraKu?” Kesan yang didapat sepertinya Yesus menolak kedatangan mereka, seolah-olah tidak menghargai ibuNya dan keluargaNya. Tentu tidaklah seperti itu karena bagaimanapun juga Maria adalah ibuNya secara duniawi, yang melahirkanNya ke dunia dan ini tidak akan pernah dilupakan. Diceritakan Yesus tetap mengajar dan Dia menggunakan hal itu menjadi bagian dari pengajaran, kataNya kemudian: “Barangsiapa melakukan <4160> kehendak <2307> Allah <2316>, dialah saudara-Ku <80> laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan <79>, dialah ibu-Ku <3384>.” Menjadi tanda tanya bagi kita mengapa Yesus berkata seperti itu. Pernyataan Yesus ini menjadi semacam peringatan untuk Maria ibuNya dan saudara-saudaraNya agar tidak lagi menjadi keluarga secara genetik dengan Yesus tetapi menjadi keluarga / saudara yang baru, didasarkan pada iman percaya pada Tuhan dan kemauan untuk melakukan kehendak Tuhan.
Di dalam diri Kristus, berdiri sebuah keluarga atau persaudaraan yang baru yang tidak didasarkan pada ikatan darah (genetik) tapi disatukan oleh atau di dalam Roh, yaitu iman dan disertai kemauan untuk melakukan perintah Tuhan. Para muridNya telah menemukan hal itu, mereka telah bertemu dengan Yesus, dan percaya. Karena kepercayaan itu mereka telah bersatu dengan Tuhan, dan menjadi terikat dalam satu persaudaraan yang baru yang menerima dan hidup dalam Firman Tuhan sebagai nilai dan sikap hidup. Tentang merekalah Yesus berkata: “dialah saudara-Ku <80> laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan <79>, dialah ibu-Ku <3384>." (bnd. Matius 12:49). Di dalam Kristus ada persekutuan yang baru karena barang siapa yang percaya padaNya akan menjadi anak-anak Allah dan akan disatukan menjadi satu keluarga baru yang hidup dalam persekutuan dengan Allah dan Yesus.
Percaya kepada Kristus adalah langkah awal untuk masuk dalam keluarga Allah. Percaya pada Kristus dapat timbul dari mendengarkan Firman Tuhan, namun kita harus sadari juga bukan karena kekuatan kita tapi karena bantuan Roh Kudus maka kita dapat percaya atau beriman pada Kristus. Iman yang tidak disertai perbuatan adalah iman yang mati. Hal ini mengingatkan kita bahwa memang perlu pergi ke gereja atau persekutuan untuk mendengar firman Tuhan namun itu tidak cukup, haruslah kita juga melaksanakan pesan firman Tuhan itu di dalam keseharian hidup kita. (bnd Matius 25:35-36,40-46)
Melalui nats ini Tuhan Yesus mengajak kita agar mau mendengar dan melakukan firmanNya karena hal ini akan membuat kita beriman dan percaya padaNya. Dengan iman dan percaya itu kita akan dilayakkan dan dimampukan untuk melakukan hal yang baik yang sesuai kehendak Allah Bapa dan dengan demikian kita layak menjadi ‘saudara laki-laki dan saudara perempuan’ dari Kristus. Amin.
(Disampaikan pada sermon parhalado HKBP Bandung Reformanda)

Minggu, 07 Juli 2013

Hidup kekal (Yohanes 3 : 16)



TAWARAN KESELAMATAN
Yohanes 3 : 16 : “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”

2 Tes 3 : 16-18
Yehezkiel 37 : 24-28

            Sejak manusia pertama jatuh dalam dosa maka manusia hidup dalam ketakutan, penuh kekuatiran bahkan menerima upah dosa yaitu maut. Manusia akan binasa karena dosanya. Berbagai usaha dilakukan oleh manusia untuk memenangkan dirinya dari maut, memenangkan dirinya dari kungkungan dosa. Tapi apa daya, seperti orang yang berusaha membersihkan arang, meskipun berulang-ulang dicuci, tidak akan dapat menghilangkan kehitaman arang itu. Demikianlah dengan kita manusia, sifat dosa di dalam kita tidak akan pernah meninggalkan kita, apapun usaha kita sifat dosa itu tetap melekat dalam diri kita. Itu artinya manusia akan menerima kebinasaan karena dosanya.
            Yohanes 3:16 ingin mengatakan bahwa Allah dengan kasihNya datang menawarkan keselamatan manusia dari maut dengan mengaruniakan Yesus Kristus AnakNya yang tunggal. Janji Allah adalah barangsiapa yang percaya kepada Yesus tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Maukah kita menerima tawaran ini demi keselamatan jiwa kita?
            Bila kita perhatikan, ini adalah tawaran keselamatan yang sungguh besar! Suatu tawaran kelepasan dari hukuman yang tidak dapat dibayangkan untuk dosa-dosa yang kita lakukan yang tak terhitung banyaknya! Keselamatan ini diberikan dengan cuma-cuma atau gratis tanpa bayar! Cukup menerimanya dengan hati percaya pada Yesus Kristus, maka manusia akan selamat. Sebuah keselamatan yang membuat kita diberkati untuk selama-lamanya. Bagi orang yang tidak mempedulikan tawaran keselamatan ini akan mengalami hal yang sangat mengerikan, karena bagiannya adalah neraka dan lautan api yang kekal.
            Tetapi barang siapa yang mau menerima keselamatan yang besar ini sekarang, adalah orang-orang yang sungguh diberkati. Dosa-dosa kita akan diampuni. Sifat kita untuk berdosa akan diubahkan. Kita akan menjadi orang-orang yang bernafaskan doa dan hidup di dunia ini, dengan dan di dalam Sang Juruselamat. Kemudian bersama Yesus kita akan menikmati kerajaan surga dalam dunia yang akan datang. Kiranya Allah memberi anugerah supaya kita semua mendapat kebahagiaan yang sangat besar ini. Amin. (HDIS)

Mari kita berdoa: Terima kasih Tuhan untuk janjiMu bagi orang yang percaya pada AnakMu. Anugerahkanlah bagiku keselematan itu ya Tuhan karena aku percaya pada AnakMu yang telah lahir, mati di kayu salib dan bangkit dari orang mati dan naik ke sorga. Amin.

Peganglah apa yang ada padamu (Wahyu 3 : 11)



“PEGANGLAH APA YANG ADA PADAMU”
Wahyu 3 : 11 : “Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.”

Lukas 16 : 10-13
Mazmur 5 : 1-13

            Ayat hari ini adalah bagian dari tulisan Yohanes untuk jemaat di Filadelfia. Tuhan Yesus memuji jemaat Filadelfia karena kesetiaan iman mereka. Jemaat itu dinilai setia menuruti firman Tuhan dan tidak menyangkal nama Tuhan (ay 8), tekun menantikan Tuhan (ay 10). Walau kekuatan mereka tak seberapa (ay 8), mereka tidak menyerah terhadap gangguan orang Yahudi, mereka tidak menganggap bencana alam sebagai ketidakadilan Allah, seperti sering kita dengar bila orang mengalami kesusahan karena bencana alam.
            “Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu”. Orang yang setia dan berpegang teguh serta berpengharapan pada Tuhan akan mendapat mahkota kehidupan dari Tuhan. Namun bukan tidak mungkin dalam perjalanannya akan mendapat pencobaan, kesukaran yang berakibat lepasnya mahkota kehidupan itu. Karenanya setiap orang harus tetap berjuang memegang teguh serta bersungguh dalam iman, kepercayaan dan pengharapan pada Tuhan Yesus. Perjuangan ini harus dijalani sampai akhir walau banyak rintangan. Jangan berhenti atau menyimpang ditengah jalan, harus selesai sampai di akhir tujuan. Dalam menghadapi cobaan ini Tuhan Yesus memberi dorongan, kataNya:  “Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu,...”.
            Bagi orang yang setia dan tekun dalam iman kepada Tuhan akan mendapat pertolongan dari Tuhan sendiri, Dia akan membukakan jalan dan tidak seorangpun dapat menghalangi jalan orang percaya meraih mahkota kehidupan yang kekal, Tuhan sendiri yang akan mematahkan usaha / rancangan yang mencoba menghalangi jalan orang percaya, orang yang setia dan tekun akan terhindar dari bahaya, Yesus berada di depan dan menghalau segala tantangan, cobaan dan bahaya.
            Kita akan mengalami pencobaan, penghinaan, karenanya kita diminta untuk peka (dengar-dengaran) terhadap suara Tuhan Yesus dan teguh memegang mahkota kehidupan kita. Pencobaan, penghinaan akan berakhir dan barang siapa yang mampu setia kepada Tuhan Yesus sampai akhir akan mendapat kemenangan dan kesempurnaan mahkota kehidupan. Amin. (HDIS)

Mari kita berdoa: Trimakasih Tuhan Yesus atas ayat hari ini yang mendorong aku untuk setia dan berpegang teguh dalam iman kepadaMu. Tolonglah aku ya Tuhan agar aku mampu berdiri teguh tidak goyah karena berbagai cobaan yang kuhadapi. Bimbinglah aku sampai akhir perjuanganku untuk mendapat mahkota kehidupan yang Kau janjikan padaku. Amin.

Jumat, 05 Juli 2013

Bermurah hatilah pada sesama



Obaja 1 : 12 Janganlah memandang rendah saudaramu, pada hari kemalangannya, dan janganlah bersukacita atas keturunan Yehuda pada hari kebinasaannya; dan janganlah membual pada hari kesusahannya.

Matius 25 : 31-37
2 Raja 1 : 2-6

            Kita pernah mendengar: “tertawa di atas penderitaan orang lain”, dapat diartikan sebagai mengambil keuntungan dari kemalangan orang lain. Kalimat tersebut dapat diartikan sama dengan ayat bacaan di atas.
            Terlepas dari latar belakang ayat ini, jelas bahwa kita tidak boleh tertawa, bersukacita melihat orang yang berada dalam penderitaan apalagi mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain. Tuhan melarang jemaatNya berkelakuan seperti itu, karena itu bukan sifat Tuhan. Tuhan itu kasih, dan Dia ingin menolong orang dalam kesusahannya.
            Bila kita melihat seseorang yang gagal, kita seharusnya tidak menuding dia dengan kejam atau merasa angkuh atau lebih unggul dari dia. Tapi, kita harus merasa sedih untuk orang itu, berdoa untuk dia dan dengan sungguh-sungguh berusaha menolong dia sedapat mungkin. Kristus tidak pernah bahagia atas kejatuhan siapapun dalam dosa, Dia ingin kalau bisa seorangpun tidak binasa (Yoh 3:16).
            1 Kor 13:4: “..., kasih itu murah hati...”. Murah hati adalah kasih yang bekerja. Orang yang murah hati tidak akan dengan sengaja melukai perasaan orang lain. Orang yang murah hati tidak senang memperberat beban orang lain. Sikap murah hati akan menolong membawa orang kepada Kristus yang kita layani.
            Dalam merespon kegagalan, penderitaan orang lain, kita harus mengambil sikap yang sama dengan Tuhan kita, menolongnya bukan bersukacita. Ingatlah, kita adalah wakil Kristus dan kita harus selalu bersikap seperti Dia, maka orang lain akan melihat Kristus di dalam kita, dan menginginkan kehidupan seperti kita.

Mari kita berdoa: Kami bersyukur padaMu Tuhan, kami diingatkan untuk bermurah hati pada setiap orang terutama pada orang yang ditimpa penderitaan. Biarlah kasihMu ada dalam hati kami sehingga orang lain dapat mengenal Engkau melalui sikap dan perbuatan kami. Amin (HDIS)

Dipanggil untuk memberitakan kabar baik



“DIPANGGIL UNTUK MEMBERITAKAN KABAR BAIK”
1 Petrus 2 : 9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan – perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memangil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.

Roma 14 : 1-4
Yesaya 1 : 1-9

Kehadiran umat manusia di dunia ini adalah atas inisiatif TUHAN dengan maksud tertentu. Istilah yang tepat untuk ini adalah eklesia (bhs Yunani), maksudnya: ek berarti keluar dan kaleo berarti dipanggil. Umat TUHAN yang kemudian dikenal sebagai Kristen (pengikut Kristus) dipanggil untuk masuk ke dalam dunia, tetapi tidak berkompromi dengan dosa dunia, mereka dipanggil, dikumpulkan, dikuduskan dan ditetapkan TUHAN melalui Roh Kudus.
“…………,supaya kamu memberitakan perbuatan – perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.”
TUHAN memanggil setiap orang Kristen menjadi saksi untuk menyatakan apa yang telah “dilihat dan didengar” tentang perbuatan – perbuatan besar dari Kristus.
            Bersaksi adalah suatu sikap hidup – setiap saat kita harus bisa dan siap menjadi saksi bagi Kristus. Kita bersaksi melalui kehidupan kita sendiri. Perbuatan sering lebih nyata daripada kata-kata. Tetapi perbuatan-perbuatan saja tidak cukup untuk menyampaikan Injil Kritus kepada orang lain. Kita perlu bersaksi juga melalui kata-kata – untuk memperkenalkan pribadi Yesus Kristus secara terang-terangan dan bicara kepada orang lain mengenai bagaimana manusia dapat diperdamaikan dengan TUHAN.
Satu-satunya cara yang sangat berhasil untuk menyatakan kesaksian anda kepada orang lain adalah menceritakan bagaimana Kristus telah berbuat dan bekerja dalam hidup anda.     Marilah dengan sukacita menerima ajakan Kristus menjadi saksiNya.

Mari kita berdoa: Terimakasih ya Tuhan Allah kami atas kehadiran Yesus Kristus dalam kehidupan kami. Kami bersyukur karena Engkau mau memilih kami sebagai umat pilihanMu. Berikan kami kekuatan Roh Kudus agar kami mampu melakukan kehendakMu ya Tuhan untuk memberitakan perbuatan ajaib Tuhan kepada sekeliling kami. Amin.

Menyembah Tuhan



“KONSISTEN UNTUK MENYEMBAH TUHAN”
Ulangan 13 : 4 TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintahNya, suaraNya harus kamu dengarkan, kepadaNya harus kamu berbakti dan berpaut.

Lukas 10 : 17-20
Keluaran 6 : 8-12

            Ayat di atas adalah bagian dari perikop tentang “peringatan terhadap penyembahan berhala dan ibadah yang sesat” dan merupakan bagian dari perintah TUHAN untuk diajarkan dan dilaksanakan oleh bangsa Israel. Sehingga berkat TUHAN menyertai mereka, keadaan mereka baik serta berumur panjang dinegeri yang diberikan TUHAN pada mereka. Secara tegas dalam ayat ini bangsa Israel diperintahkan agar menempatkan TUHAN sebagai yang utama melebihi dari segalanya dalam hidup mereka serta menjadikan TUHAN sebagai tempat untuk berbakti dan berpaut.
Bagaimana dengan kita sekarang ?
      Hukum taurat melarang kita untuk menduakan TUHAN, melarang menyembah allah lain tetapi menyembah TUHAN sebagai satu-satunya Allah. Ayat di atas senada dengan perintah Yesus Kristus yaitu “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”(Matius 22: 37-40). Ayat di atas dan perintah itu sangat relevan bagi kita.
         Godaan duniawi dan si Iblis untuk me-nomor dua-kan TUHAN dan me-nomorsatu-kan hal lain seperti materi, teknologi, kepintaran, kekuasaan, popularitas, sangat intens mengganggu manusia.
          Kita harus konsisten mengasihi TUHAN sebagai satu-satunya Allah yang kita sembah. Karena itu kita perlu berkomunikasi secara intens dengan TUHAN. Komunikasi dengan TUHAN harus menjadi prioritas yang terutama. Mari kita membangun komunikasi dengan TUHAN mulai dari kebaktian / doa keluarga, ikut dalam kegiatan gerejani, persekutuan agar kita dapat tegar dan setia menempatkan TUHAN sebagai prioritas yang utama dan berkat TUHAN - pun akan selalu menyertai kita.

Mari kita berdoa: Kami bersyukur kepadaMu ya Tuhan atas bacaan kami hari ini. PerintahMu adalah agar kami mengutamakan Engkau dalam hidup kami. Berilah kami kekuatan dan kemampuan agar kami dapat melaksanakan perintahMu itu. Sehingga berkatMu selalu menyertai kami. Dalam nama Kristus kami berdoa. Amin